Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan, banyak negara memiliki perhatian terhadap kesetaraan gender. Hal ini terlihat dari sudah banyak perempuan yang membuktikan dirinya layak dan pantas untuk mengemban tugas dan wewenang yang biasanya dilakukan laki-laki.Menkeu Sri Mulyani Jabarkan Daftar
Misalnya, pada forum Menteri Keuangan dan Bank Sentra Dunia di Washington DC yang dipimpin oleh para perempuan dari berbagai negara. Antara lain Managing Director IMF Rustalina sebagai pemimpin rapat dan Menteri Keuangan Spanyol Nadia. Presentasi rapat pagi ini juga dilakukan FSB Ral Bernard dan perwakilan IMF lainnya yang juga perempuan.Menkeu Sri Mulyani Jabarkan Daftar
“Jadi 4 perempuan hari ini bicara ekonomi dunia dan bagaimana dunia mengelola keuangan di tengah geopolitik yang membuat harga energi dan pangan melonjak tinggi sehingga bisa mengancam pemulihan ekonomi,” kata Sri Mulyani di Washington DC dalam acara Bincang Kartini Masa Kini.Menkeu Sri Mulyani Jabarkan Daftar
Sri Mulyani mengatakan secara historis, dunia keuangan biasanya didominasi oleh laki-laki. Jarang perempuan yang memiliki jabatan penting dalam hal keuangan. Namun, saat ini stigma buruk yang melekat pada perempuan perlahan mulai terbantahkan. Banyak perempuan yang menjadi menteri keuangan dan gubernur bank sentral di berbagai negara dunia.Menkeu Sri Mulyani Jabarkan Daftar
“Banyak sekali sekarang pejabat keuangan yang perempuan. Ada menteri keuangan pertama di Amerika Serikat, Gubernur Bank Sentral di Eropa, Menteri Keuangan di Spanyol, Kanada, India dan Menteri Keuangan Indonesia juga perempuan.
Artinya kata dia, saat ini sudah banyak perempuan yang terbukti mampu menduduki jabatan yang biasanya hanya dikerjakan oleh laki-laki. Melakukan tugas-tugas penting yang selama ini dipersepsikan sebagai pekerjaan yang selalu dipegang laki-laki.
Fenomena Perempuan Tidak Pantas
Menurutnya, persepsi yang terbangun dan diamini sejak dulu, sebuah pekerjaan atau aktivitas dianggap bukan untuk perempuan. Walaupun dikerjakan perempuan muncul anggapan perempuan tidak mampu. Kalau ternyata mampu dikerjakan dengan baik, maka dianggap perempuan tidak pantas melakukan pekerjaan itu.
“Ini salah satu kendala yang luar biasa waktu kita bicara pemberdayaan perempuan. Banyak hal dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik muncul atau dipatrikan pemikiran ini bukan pekerjaan perempuan atau perempuan tidak pantas, tidak boleh, tidak mampu mengerjakan hal tersebut.
Fenomena ini pun tidak hanya terjadi di Tanah Air, tapi merata di seluruh dunia. Akibatnya perempuan harus bekerja lebih keras untuk memperjuangkan yang menjadi cita-cita dari persepsi, norma, budaya dan bahkan interpretasi agama.Ini memberikan batasan mengenai yang dianggap bisa-tidak bisa, boleh-tidak boleh bagi perempuan,” katanya.
Padahal kalau ada perempuan yang melakukan itu dan dilakukan dengan baik, seluruh persepsi tersebut akan terbantahkan. Untuk itu dia meminta para perempuan memiliki cita-cita yang tinggi dan mendobrak stigma yang terlanjur melekat. Ambisi yang tinggi juga harus diiringi dengan mengisi kompetensi, ilmu pengetahuan dan keahlian. Terpenting karakter dan sikap.
Related Article :
menkominfo aplikasi pedulilindungi tidak melanggar ham